Assalamu’alaikum
guys…!!! Welcome back to my blog. Sharing#2 ini, saya akan membagikan sebuah
cerita ringan yang diberikan oleh Abi saya ketika mengisi kajian di langgar
(tempat belajar mengaji). Di langgar ini, beberapa anak (mulai dari kelas satu
SD sampai kelas 6 SD) datang untuk belajar mengaji setiap malam kecuali malam
ahad alias malam Minggu. Alasan mengapa libur, karena setiap malam Ahad yang
ngaji hanya tujuh anak, bahkan kadang hanya berdua (maklum, disini agak pinggir
kota, malam Ahad pada “malam Mingguan”). Sepertinya, aku rasa cuma di tempatku
yang Langgar ada hari liburnya. Lalu hari Kamis (malam Jumat) baca Ya Siin dan
Tahlil, dan malam Selasa belajar kajian Islam, baik belajar cara Sholat yang
baik, Adzan dan Iqomah,Fiqih, atau kajian Islam lainnya.
Tepat pada malam
selasa kemarin (19/03/2018), saya begitu lelah, adik saya PMS dan ummi saya
puasa. Akhirnya, hanya saya dan Abi yang pergi ke Langgar. Setelah sholat Rawatib
Abi meminta para santri untuk membentuk lingkaran. Sedangkan saya duduk mojok
sambil menahan kantuk yang luar biasa. Saya bukan orang yang mudah mengantuk
ketika bukan jam tidur, mungkin karena hari itu saya begitu lelah.
Abi membuka
kajian dengan salam dan menanyakan, “Sekarang bulan apa, ada yang tau?”.
Beberapa anak menjawab “bulan Rajab.” lainnya ada yang menjawab bulan Maret,
dan sebagian lainnya ada yang hanya melongo. Yah, tidak ada yang salah. Setelah
itu, Abi bertanya lagi, “kisah apa yang terjadi di bulan Rajab?”. “Isra’
Mi’raj!!!” teriak beberapa santri yang membuat santri lainnya melongo (lagi).
Setelah itu, Abi memulai ceritanya dengan ringan yang sekiranya bisa diterima
dengan mudah oleh anak-anak, bahkan menurt saya, cerita yang diberikan oleh Abi
bukanlah cerita yang khusus, mungkin sudah biasa didengar, tapi entah kenapa,
cerita Abi bukan membuat saya menjadi lebih mengantuk, tapi justru sebaliknya. Bahkan membuat saya meneteskan air mata saking terharunya. Berikut ceritanya.
“Dalam perjalanan
Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad diantar Malaikat Jibril menuju langit ke tujuh,
singgahsana Tuhan kita semua, Allaah. Sesampainya, Nabi Muhammad mengajak
Malaikat Jibril untuk ikut masuk menemui Allaah, namun Malaikat Jibril Menolak
karena ia hanya diperintahkan untuk mengantar Nabi Muhammad sampai di pintu
masuk. Akhirnya, Malaikat Jibril menunggu diluar.”
Dari bagian ini,
saya kagum sekali dengan keramahan Nabi Muhammad yang dengan santun mengajak
Malaikat Jibril.
“Setelah itu,
Nabi Muhammad menghadap Allaah dengan duduk seperti tahiyat akhir dalam sholat (Abi memperagakan). Lalu, mulailah percakapan antara Allah dan Nabi
Muhammad.”
Saya mulai antusias,
“Nabi menyapa Allaah, Attahiyatul mubarokatush sholawatut toyyibatulillah.
Segala penghormatan yang berkat sholat yang baik adalah untuk Allaah.”
“kemudian Allaah menyapa Nabi dengan, Assalamu’alaika ayyuhan nabiyyyu
warohmatullahi wabarokatuhu. Sejahtera atas Engkau wahai Nabi dan rahmat
Allaah serta keberkahannya. Sapaan Allaah membuat Nabi sedih. Ya Allaah,
mengapa hanya diriku yang Engkau rahmati dan berkahi, bagaimana dengan ummatku,
kata Nabi. Sehingga Allaah pun melanjutkan, Assalamu’alaina wa ‘ala
‘ibadillahissholihin. Juga kesejahteraan atas hamba-hambaKu yang Sholeh.
Nabipun merasa senang, merasa sedih, karena ummatNya juga dirahmati dan
diberkahi oleh Allaah.”
Hati saya seketika bergetar dan terasa sakit. Saya bukanlah ummat yang membanggakan, dan Nabi
Muhammad tahu itu, namun Ia tetap senantiasa memohonkan rahmat dan berkah
kepada Allaah untuk ummatNya, bahkan sebelum saya lahir. Ini hanyalah satu bentuk cinta Nabi Muhammad
kepada ummatnya. Hal yang sangat sering saya abaikan, atau pura-pura tak mau
tahu. Siapa yang tak tahu, Nabi Muhammad memanglah sosok yang sempurna. Paling
perhatian, romantis, peduli, penyayang, pintar, bijaksana, pemaaf, dan sifat
baik lainnya.
Mohon Syafaati kami ya Rasuullaah.
Inilah salah satu kajian Islam yang sangat manis. Meski dalam peristiwa
Isra’ Mi’raj sebagian orang tersentuh atas kebaikan nabi yang dengan sangat
malu menghadap Allaah, meminta diskon karena Ia tau jika ummatNya sangatlah
lemah dan tak akan sanggup dalam menjalankan perintah sholat 50 kali dalam
sehari semalam (saya sebelumnya begitu). Namun malam itu, aku tersentuh oleh
cinta Nabi lewat dialogNya dengan Allaah.
| Musholla Al-Fath |

4 komentar
Subhanallah... Memang Rasulullah adalah sebaik-baiknya penghulu umat manusia.
BalasHapusIyaah, mbak. beruntung bisa menjadi ummatnya
HapusSollalloh'ala Muhammad
BalasHapusBagus mbak... Aku baru tahu kisah ini... Merinding
BalasHapus