![]() |
| seripedia.com |
Assalamu’alaikum, selmat datang di
Blog saya. Saya juga mengucapkan terimakasih
setulusnya buat pembaca yang menyempatkan waktunya untuk membaca tulisan
saya yang acak-acakan, maklum, saya penulis amatir yang alay. Hahaha.
Oke, lanjut. kali ini saya akan
masih beropini di Opini#2. Temanya pun masih anget, yaitu tentang salah satu
putri proklamator yang paling membanggakan untuk Indonesia Ir. Soekarno,
Sukmawati Soekarno Putri. Kalian pasti sudah tahu dan bahkan mungkin lebih tahu
dari saya tentang kontroversi yang dibuat oleh Ibu Sukmawati.
Sukmawati Soekarno Putri adalah
salah satu putri Bapak Soekarno yang beberapa waktu lalu saat acara 29th Anne
Avantie di Ajang Fashion week 2018, beliau berkesempatan untuk membacakan
sebuah puisi yang ia ambil dari sebuah buku yang ia terbitkan pada tahun 2006
yang berjudul., IBU INDONESIA. Jujur, saya tidak tahu tentang beliau, apalagi
tentang buku tersebut. Saya hanya tahu jika beliau adalah putri Bapak Soekarno
dari nama belakang yang ia miliki saat setelah video beliau viral. Banyak
sekali tanggapan baik dari Ulama, hingga masyarakat dengan berbagai macam
tanggapan, baik itu opini baik, atau War. Baik itu opini mengandung cacian,
emosi, dan pemahaman yang positif. Hingga saat ini, beberapa orasi pun mulai
dilakukan diberbagai daerah (termasuk di kota saya, pamekasan).
Di Opini#2 ini, saya tidak akan
beropini tentang isi dari puisi yang ibu Sukma bacakan, melainkan permohonan
maaf yang beliau sampaikan saat konferensi pers beberapa waktu lalu setelah
beliau dilaporkan atas tuduhan penistaan agama. Dalam konferensinya yang saya
tonton di channel youtube resmi CNN Indonesia, beliau menyampaikan beberapa
pernyataan sebagai berikut:
1.
Puisi Ibu Indonesia yang
saya bacakan adalah sesuai dengan tema acara pergelaran busana, yaikni Culture
Identity. Yang mana adalah semata-mata pandangan saya sebagai seniman dan budayawati,
dan murni merupakan karya sastra Indonesia. Saya mewakili pribadi tidak ada
niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan puisi Ibu Indonesia.
Pada pernyataan Ibu Sukma di poin 1 ini, memang tidak salah,
judul yang beliau angkat memanglah bagus, Ibu Indonesia, judul yang keren
banget menurut saya, tapi tidak dengan isinya. Dan yang menjadi tanda tanya
besar bagi saya adalah “niat” sebenarnya dari isi puisi itu. Jika memang bukan
untuk menghina, lalu apa? Apakah seorang seniman dan budayawati sebegitu kehabisan
kata-kata untuk mengekspresikan hal itu.
2.
Saya adalah muslimah yang
bersyukur dan bangga akan keislaman saya putri seorang proklamator Bung Karno
yang dikenal juga sebagai tokoh Muhammadiyah dan juga tokoh yang mendapat gelar
dari NU sebagai waliyul Amri Addaruru bi Ashauka, pemimpin pemerintahan dimasa
darurat yang kebijakan-kebijakannnya mengikat secara devacto dengan kekuasann
penuh
Yang kedua ini, satu kata ketika mendengar pernyataan
beliau? “iyyakah...?” dan, entah mengapa, itu terdengar jika beliau hanya
bangga akan keislaman Ayahnya.
3.
Puisi Ibu Indonesia adalah
salah satu puisi yang saya tulis yang menjadi salah satu puisi dari buku
kumpulan puisi Ibu Indonesia dan diterbitkan pada tahun 2006 yang ditulis
sebagai refleksi rasa keprihatinan saya tentang rasa wawasan kebangsaan dan
saya rangkum semata-mata untuk menarik perhatian anak-anak bangsa untuk tidak
melupakan jati diri indoensia asli.
Niat yang mulia, tapi sekali lagi, Ibu Sukma kehabisan cara,
sehingga Agama diangkat dengan tidak benar. Puisi itu di tulis sebelum tahun
2006, bukan sebuah puisi yang ia sampaikan secara spontan, jadi sangat
disayangkan jika Ibu Sukma tidak bisa memilih mana yang pantas dan tidak pantas
dilakukan oleh seorang muslimah, sastrawati, budayawati, dan terlebih putri
orang hebat Indonesia yang harum namanya.
4.
Puisi ini saya tulis
sebagai bentuk upaya mengekspresikan dari suara kebudayan yang sesuai tema
acara. Sayapun tergerakan oleh cita-cita untuk semakin memahami masyarakat
Islam Nusantara yang berkemajuan, sebagaimana cita-cita Bung Karno. Dalam hal
ini, bagi saya Islam itu Agung, Mulia, dan Indah. Puisi itu (Ibu Indonesia) juga
merupakan bentuk penghormatan saya terhadap Ibu pertiwi Indonesia yang begitu
kaya dengan tradisi kebudayaan dalam susunan masyarakat Indoensia yang begitu Berbineka
namun tetap Tunggal Ika.
Dari pernyataan beliau yang ada 5 poin lengkap dengan
pernyataan permohonan maaf, menunjukkan sikap yang tidak dewasa. Beliau
mengangkat Bineka Tunggal Ika, bukan berarti beliau bisa mencampur adukkan
sesuatu yang pantas dan tidak pantas dilakukan, apalagi oleh orang dewasa
seperti Ibu Sukma.
Banyak tanggapan masyarakat, salah
satu yang membuat saya miris adalah pernyataan, “BUNG, BANGUN BUNG, NEGARA YANG
KAU BANGUN, PERLAHAN MULAI DIHANCURKAN OLEH PUTRI-PUTRIMU”. Dan beberapa saya cantumkan
dibawah ini.
Apaun pada akhirnya, saya pribadi
memaafkan akan kehilafan beliau. Semoga beliau bisa lebih dewasa dan tidak
mengulanginya lagi serta menjadi pembelajaran untuk semua orang. Selain itu,
saya juga berharap proses hukum tetap berjalan sesuai proses hukum yang
berlaku. Karena digadang-dagang, ini lebih parah dari yang terjadi oleh kasus
Bapak Basuki Cahya Purnama (Ahok).
Selain itu, saya juga berharap
kepada masyarakt untuk tidak mudah mempercayai atau sampai menyebar luaskan
berita yang belum tentu kebenarannya, berkomentar yang tidak menjatuhkan satu
sisi lainnya. Karena Indonesia adalah negara dengan Agama dan Budayanya yang
harus tetap kita junjung tinggi sebagai penghormatan dan rasa suykur
semata-mata Allaah tidak akan menciptakan sesuatu tanpa ada manfaatnya.
Terakhir, ini hanyalah opini saya.
Jika ada hal yang kurang pantas mohon kesediaannya mengkonfirmasi di kolom
komentar. Dan jika berkenan, saya juga ingin mendengar beberapa tanggapan pembaca
mengenai topik saya ini. Sampai jumpa di tulisan saya selanjutnya, Stay
Positive & May Allaah Bless You. Tengkyu ^,^


1 komentar
Bagus mbak... Aku probadi kasihan dengan Bung Karno... Kasihan karena apapun yang dilakukan anaknya, pasti mereka berlindung dalam nama bapaknya..
BalasHapus